Forum Untuk Teknik Kimia Ubaya 2001

Teknik Kimia, Ubaya, tekkim

UAN….Kontroversi….

Kita semua pasti pernah ngalamin apa yang namanya EBTANAS or secara keren sering disebut Ujian Nasional. Beberapa waktu yang lalu, adik-adik SMA kita (ngerasa udah tua….) baru aja nyeselain UAN.

Masih inget standard kelulusan tahun lalu yang notabene membuat beberapa orang sempet shock berat ? Masih inget kejadian tahun lalu yang cukup kontroversial di mana anak-anak yang boleh dikatakan pintar (walau di salah satu mata pelajaran tidak bisa dianggap pintar) bahkan pernah menang di olimpiade matematika (koreksi bila salah) menjadi salah satu korban tidak lulus ? Masih inget kejadian anak bunuh diri gara-gara tidak lulus UAN tahun lalu, dan sekian banyak anak yang menjadi stress dan gila mungkin ? Guys, dunia pendidikan kita telah (lebih) tercoreng menurut aku. Gimana enggak ? Sudah banyak masalah pendidikan lain yang belum terselesaikan, eee.. masih ditambah satu masalah lagi yang sebenernya….menurut aku sih lumayan berat dan kontroversial juga. UAN dijadikan standar satu-satunya untuk menentukan kelulusan siswa, sementara tingkat pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia tidak sama. Tahun lalu kalo nggak salah 3 mata pelajaran yang diujikan dan standard kelulusan adalah nilai rata-rata minimal 5 (koreksi bila salah, kalo ada yang mau menjelaskan lebih detail, sok atuh…). Tahun ini lebih gila lagi, 6 mata pelajaran, standar nilai minimal 5,25 (naik nee…).

Yah, ini sebenarnya memang dilema sih. Nggak dilakuin kita nggak punya standar yang mencerminkan pendidikan kita, dilakuin malah membuat orang jadi stress…

Tadi pagi sambil berangkat kerja, sempet juga aku ndengerin topik di radio Prambors, acaranya Panda ‘n Farhan ngebahas masalah ini. Guys, mungkin aku yang kurang info or, memang ini tellat exspose. Ada sebuah sekolah yang guru-gurunya sempet digerebek Densus 88 (ngerti kan lo semua, ini tim apa) ketika ketahuan ngebenerin jawaban siswa-siswanya untuk ujian Bahasa Inggris, di Sumatera Utara. Secara logika, ini memang tindakan yang salah. But…mari kita telusuri lagi, kenapa para guru ini mau ambil resiko.

Kalo jawaban kalian karena mereka “dibayar” oleh para siswa, kalian salah besar. Nggak logis lagi, “ngebayar” 18 guru sekaligus. Lagian ini sekolah yang cukup terpencil yang notabene siswanya juga nggak kaya-kaya amat. Aku pikir, guru-guru ini pastilah punya niat yang tidak buruk, namun mungkin caranya salah.

Tahu nggak kalian apa tanggapan para murid dari guru-guru ini ? Tim Prambors berhasil mewawancarai salah satu murid SMA yang bersangkutan. Murid tersebut berpendapat, dia bangga pada gurunya, walaupun tidak menyangka para guru akan bertindak begitu (mengingat seharusnya para guru itu harusnya digugu lan ditiru…). Kenapa dia bangga ? Karena dia merasa soal ujian bahasa Inggris itu memang tidak sesuai dengan apa yang selama ini mereka pelajari (notabene soal ujiannya listening and reading, sedangkan mereka tidak pernah sekalipun dilatih untuk itu, karena memang mungkin prasarana tidak lengkap), dan para guru dengan sukarela mau membantu anak didik mereka, yang mereka rasa memang tidak akan mampu untuk itu. Terlepas dari seharusnya mengajarkan hal itu adalah kewajiban para guru dan pihak sekolah, namun tindakan ini aku pikir bisa menggambarkan betapa tidak meratanya tingkat dan standar pendidikan siswa di Indonesia, di berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu blok seorang siswa SMU yang juga mengalami UAN, menggambarkan bahwa betapa UAN saat ini seolah-olah menjadi setan dan penjajah yang membelenggu mereka, hanya agar mereka bisa melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (http://kutexmerah.multiply.com/journal/item/43/Ujian_Nasional_Behind_The_Scene?replies_read=23). Ini gila….

Guys, apa sih tujuan kita sekolah ? Mungkin itu yang harus ditanyakan juga ke para pemimpin kita yang membuat peraturan. Dulu waktu aku kecil, aku diajarin kalo kita sekolah itu untuk menuntut ilmu. Sekali lagi… MENUNTUT ILMU. Kalau sekarang aku lebih menilai kita sekolah untuk mencari nilai, menyenangkan ortu, dll, dll, dll….. Banyak motifnya dan sudah melenceng semua dari motif dasar tadi. Jelas aja, para siswa juga merasa terbeban untuk belajar. Jelas aja para pemimpin kita juga membuat peraturan yang aneh-aneh tanpa melihat kemampuan para siswa.

Sebenarnya siapa sih yang salah ? Menurut aku, seperti biasa, dua-duanya salah. Para siswa di satu sisi sudah mulai terpengaruh untuk males-malesan sekolah, hidup glamour, senang-senang, kadang tidak memperhatikan pendidikan lagi. Tapi juga hal itu bukan murni kesalahan mereka. Kenapa mereka begitu, … karena memang pelajaran mereka segitu-segitu aja, gimana mau belajar menuntut ilmu lebih tinggi… sementara yang diajarkan juga itu-itu aja. Sekolahnya salah juga dong kalo gitu. Mereka senang-senang terus, tidak memperhatikan pelajaran, ortunya juga salah dong, kok nggak ngontrol anaknya, ooo karena ortunya sibuk cari duit buat bayar sekolah karena sekolah mahal. Kok sekolahnya mahal, ooo karena memang peraturan dan diknas gitu, berarti diknas yang salah dong. Nggak juga, diknas kan menjalankan peraturan dari pusat, berarti pemerintah pusat lagi yang salah, apa lagi ya ? Nggak selesai deh kalo gitu. Intinya semua pihak salah. Tapi menurut aku, siswa di sini lebih sebagai korban…

Apa nggak ada cara lain selain UAN untuk menentukan apakah para siswa layak melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi atau enggak. Beberapa ada yang berpendapat, apakah nggak lebih baik ujian tetap ada untuk ukuran aja seberapa tingkat keberhasilan pengajaran, sedangkan masalah penentuan sang siswa layak atau tidak adalah ujian saringan masuk di tingkat yang lebih tinggi (notabene tiap institusi pendidikan) yang diperketat. Di sini, siswa bisa mengukur kemampuannya dan menyesuaikan ke institusi pendidikan yang sesuai dengan levelnya. Dalam hal ini, bukan ujian saringan masuk yang distandarkan, tapi mutu pendidikannya yang distandarkan. Aku pikir ini cara yang cukup bijak. But… entah lagi deh kalo ada yang ngebantah, lagian usul ini juga nggak mungkin atau kecil kemungkinan diterapkan mengingat kalau begitu, secara cepat tingkat pendidikan di Indo secara tidak langsung juga akan drop karena banyak siswa yang sebenarnya tidak layak. Artinya, banyak institusi pendidikan yang sekarang dianggap bagus yang tidak dapat murid. Lagi-lagi kembali ke pemerintah deh kayaknya. Selama tidak pemerataan mutu pendidikan, omong kosong deh…

Gimana menurut kalian ?

dikutip dari http://sebuahperjalananpanjang.wordpress.com

May 3, 2008 - Posted by esuryono | informasi | | 10 Comments

10 Comments »

  1. Pak Guru,
    Aku pusing baca blogmu..
    Tapi bangga pernah 1 tim TA kekekeke..
    Maju terus Win, perjuangkan opini mu ! :p

    Comment by mcecilia | May 4, 2008 | Reply

  2. Memang susah kalo berangkat dr kondisi kualitas yg ngga merata. Kalau pemerintah mau lepas otoritas ke daerah nanti jadi anarki, mau dibuat sama yg lemah jadi korban. Also, di samping masalah UAN sbnrnya masalah utama pendidikan Indo itu adalah paradigma pendidikan. Salahnya sejak SD. Anak kelas SD udah belajar materi2 yg susah, bikin stress. Terus orang tua sering menjadikan anaknya sarana buat menaikkan gengsi. Bagi anak yg ngga bakat science, maybe ke arts atau social, sekolah Indo itu amat bikin sengsara.

    Solusinya bisa bermacam-macam dan pasti banyak pakar yg udah bicara soal ini. Mulai dari belajar dr sebagian sistem pendidikan di Barat (ngga semua sistem Barat bagus, actually) sampe soal menaikkan komitmen dana pendidikan dr APBN. Tapi semua solusi ini percuma kalau mentalitas para pemimpin di Indo itu masih terbelakang, apalagi diperparah korupsi dan gerakan radikal agama.

    Aku yakin kasus UAN ini bakal jadi masalah terus at least sampe 10 th ke depan krn mengubah paradigma pendidikan itu butuh waktu lama. Bisa lbh cepat asal ada komitmen buat berubah. Like Obama said, we need change!

    Comment by Yalun | May 4, 2008 | Reply

  3. Wah, nggak usah pusing, dibuat gampang aja.

    Comment by esuryono | May 5, 2008 | Reply

  4. Win, kamu ada bakat jadi guru. Ada lowongan nih, mau nggak?? Gaji lumayan lho. He He He

    Comment by Hanny | May 10, 2008 | Reply

  5. Hm… sebenarnya pemerintah inget menciptakan manusia yang cerdas tapi terkesan maksa, tahun 2007 yg notabane nya 3 mata pelajaran yg lebih rendah udah ada korban kek gitu, nah sekarang di naekin o_O kek kelinci percobaan aja, gw yang sekarang ngalamin uan merasa terpojok seakan” UAN itu ada lah yang terpenting saat ini, gimana gk penting ? kalo gk lulus musti ngulang 1 tahun, bisa di bayangin rugi uang, rugi waktu, rugi umur, mang ada yang mau gitu ? i dont thinks so, yah mau gmn lagi power abus has been talk and we (student) just do whats the goverment want to do. Guru juga merasa terbebani dengan maunya pemerintah dengan mengubah ini itu mata pelajaran, padahal mah sama aja, dan guru menyuruh siswa untuk belajar dari bimbel, 1 hal yang aneh kenapa ? toh pemerintah sudah menitipkan kurikulum kepada guru otomatis guru ngerti donk secara detail apa isinya, ini karena guru itu sendiri tidak yakin apa yang di titipkan kurikulum dari pemerintah untuk bisa di ajari dengan penuh oleh siswa, kemampuan guru di sekolah alias formal terbatas bung, beda dengan informal yang mempunyai job yang luas, sedangkan formal hanya di sekolah doank ada juga sih yg ngajar di tempat lain, tapi gmn yah menurut saya berbeda jauh antara informal dengan formal. Kalo formal siswa di tumpuk” belajarnya dari mulai jam 7 teng sampai jam 2an dan kaku lagi pembelajarannya, perlukah di ubah sistem ini, saya rasa musti ada perubahan yang tidak membosankan siswa, sory kalo commentnya kepanjangan tapi ini saya sebagai siswa yang sekarang telah menghadapi uan ingin mengeluarkan unek” saya. Thx

    Correct Me If Im Wrong

    Comment by arip | May 10, 2008 | Reply

  6. Ga ngerti gua ya? kenapa ya UAN jadi kontroversi kayak gini? padahal menurut gua nilai UAN 5.25 ga tinggi2 amat, dulu waktu sekolah aku juga suka main2 tapi bisa lulus juga? emang sekarang sekolah sesusah itu ye? sampe di tivi ada yang sampe pingsan segala gara2 tegang mau ujian! kenapa sih ga enjoy aja, tiap kehidupan pasti ada jatuh bangunnya dong kalo ga lulus ya ulang aja setahun lagi belajar lebih giat gitu khan selesai masalah to? anggap aja pelajaran berharga dan kesempatan ngecengin adik kelas lebih lama lagi.

    Kalo tetep ga lulus2 juga ya ga usah masuk perguruan tinggi to,coba aja wiraswasta apa gitu kek, ato cari aja kerja yang ga perlu pake ijazah khan bisa. Orang sukses banyak juga kok yang yang ga sekolah.

    Thomas alfa edison juga dulu sering gagal sebelum bisa berhasil buat lampu. Kyknya gua lebih setuju deh ama pendapat Gus dur..
    “Gitu aja kok repot..”

    Life is beautifull man dont let a small pebble ruin your life.

    v(“.”) cheers

    Comment by monkeyphillia | May 10, 2008 | Reply

  7. Masalahnya nggak sesimple itu nyet. Ortu sekarang juga nuntut juga, bahkan ortu sekarang lebih nuntut dari ortu-ortu kita kali. Mungkin karena pendidikan ortu-ortu sekarang lebih modern dan lebih maju juga. Selain itu, ada ketakutan juga dari adek-adek kita ini, kalo nggak lulus, ntar mo nglanjutin ke mana, seolah-olah sekarang mindset mereka itu sudah tercetak, tidak lulus artinya masa depan suram. Nggak ada obat deh. Dan aku setuju tuh ama pendapatnya Arip (ini orang luar bener nggak ?) Guru sendiri nggak yakin bisa ngajarin atau nyampaiin kurikulum itu ke siswa (apakah karena si guru memang merasa nggak mampu, atau karena gurunya ngerasa siswanya mungkin nggak bisa nangkep)

    Comment by erwin | May 12, 2008 | Reply

  8. Ck…ck…ck materi yang terlalu berat, by the way aku setuju dengan Rudy, masa 5.25 saja gak mampu (Rudy aja mampu :p ), udah gitu cuma 3 pelajaran saja (bandingkan dengan kita dulu yang 7 Pelajaran, mungkin generasi sekarang bisa pingsan deh), kan kebangetan, mau jadi apa bangsa ini kalo nilai serendah itu masih dianggap berat…

    Comment by yanthegreat | May 14, 2008 | Reply

  9. silahkan mampir di http://www.aidianet.blogspot.com
    tersedia soal-soal UAN dan pembahasannya
    bisa tanya lewat yahoo messenger 24 jam

    Comment by Lilia | November 7, 2008 | Reply

  10. Orang tua atau yang merasakan zamannya EBTANAS biasanya membandingkan UN dengan Ebtanas, ada yang bilang masak sih gak bisa mencapai nilai segitu saja kan UN hanya 5 pelajaran tidak sebanyak Ebtanas dulu, waktu itu ada soal esai lagi. yah sudahlah yang penting dalam menghadapi UN anak sekarang harus mempersiapkan diri dengan baik termasuk dengan banyak latihan dan bikin ringkasan materi/rumus. Sekedar contoh rumus Fisika SMU dapat dilihat di sini

    Comment by Wahyu | December 20, 2008 | Reply


Leave a comment