Forum Untuk Teknik Kimia Ubaya 2001

Teknik Kimia, Ubaya, tekkim

BBM Naik!!!

Akhirnya tgl 24 Mei 2008 mulai pukul 00.00 WIB BBM naek juga di seluruh Indonesia (kalau tidak salah). Meskipun sebelumnya sudah banyak demo-demo yang menentang kenaikan BBM tapi mau gak mau pun pemerintah tetap menaikka BBM dari yang semula Rp 4500,- untuk bensin dan solar sekarang menjadi Rp 6.000,- (naik 33.33%).

Dengan kenaikan BBM pasti menimbulkan dampak ke sektor-sektor yang lain tanpa terkecuali, contohnya harga angkutan kota menjadi naik meskipun pemerintah belum mengumumkan kenaikan tarif untuk itu tapi semua supir angkutan umum sudah menaikkan tarif sebesar Rp 500,-

Harga sembako juga bisa dipastikan naik, meskipun aku belum tahu bakal naik menjadi berapa. Harga sembako naik mengakibatkan harga-harga makanan juga naik. Bayangkan saja semua harga naik terus rakyat-rakyat yang sudah miskin mau jadi apa??? Pengangguran meningkat, jumlah rakyat miskin meningkat, kejahatan pasti meningkat juga. Mau jadi apa Indonesia ini nantinya??? Aku gak habis pikir sih kenapa Pemerintah bisa menaikkan harga BBM sedrastis itu, kalau mau naik mbokya naik jadi Rp 5.000,- kan masih bisa ditoleransi oleh semua orang.

Ya kita lihat saja bagaimana nasib bangsa ini dengan kenaikan BBM, apakah menjadi lebih baik / tidak? Apakah pemerintah mengambil tindakan yang benar / tidak? Seharusnya yang harus diberantas tuh KKN, gaji dari para pejabat dikurangi sehingga bisa digunakan untuk subsidi BBM bukannya malah menaikkannya.

Puuusssiinnggggggggg…………………

May 25, 2008 Posted by lindawati | informasi | , | 7 Comments

Surya Buka EO…

Hi guys,

Ada kabar terbaru ni dari teman kita Surya. Rupanya Surya ini tidak puas hanya sebagai sales saja, sekarang Surya lagi mencoba peruntungannya dengan membuka EO, video wedding, dan asuransi Manulife.

Jadi bagi kalian-kalian yang mau merit silahkan hubungi Surya untuk EO dan video wedding. Surya baru saja merintis usaha ini, jadi I hope all of you can support it, ok!

Bagi yang butuh asuransi juga jangan lupa Surya ya, hehehehehe…..

NB : Sur, kalau sudah dapet klien jangan lupa traktir aku ya, sudah aku bantu promosiin ni :)

May 11, 2008 Posted by lindawati | informasi | , , | 1 Comment

UAN….Kontroversi….

Kita semua pasti pernah ngalamin apa yang namanya EBTANAS or secara keren sering disebut Ujian Nasional. Beberapa waktu yang lalu, adik-adik SMA kita (ngerasa udah tua….) baru aja nyeselain UAN.

Masih inget standard kelulusan tahun lalu yang notabene membuat beberapa orang sempet shock berat ? Masih inget kejadian tahun lalu yang cukup kontroversial di mana anak-anak yang boleh dikatakan pintar (walau di salah satu mata pelajaran tidak bisa dianggap pintar) bahkan pernah menang di olimpiade matematika (koreksi bila salah) menjadi salah satu korban tidak lulus ? Masih inget kejadian anak bunuh diri gara-gara tidak lulus UAN tahun lalu, dan sekian banyak anak yang menjadi stress dan gila mungkin ? Guys, dunia pendidikan kita telah (lebih) tercoreng menurut aku. Gimana enggak ? Sudah banyak masalah pendidikan lain yang belum terselesaikan, eee.. masih ditambah satu masalah lagi yang sebenernya….menurut aku sih lumayan berat dan kontroversial juga. UAN dijadikan standar satu-satunya untuk menentukan kelulusan siswa, sementara tingkat pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia tidak sama. Tahun lalu kalo nggak salah 3 mata pelajaran yang diujikan dan standard kelulusan adalah nilai rata-rata minimal 5 (koreksi bila salah, kalo ada yang mau menjelaskan lebih detail, sok atuh…). Tahun ini lebih gila lagi, 6 mata pelajaran, standar nilai minimal 5,25 (naik nee…).

Yah, ini sebenarnya memang dilema sih. Nggak dilakuin kita nggak punya standar yang mencerminkan pendidikan kita, dilakuin malah membuat orang jadi stress…

Tadi pagi sambil berangkat kerja, sempet juga aku ndengerin topik di radio Prambors, acaranya Panda ‘n Farhan ngebahas masalah ini. Guys, mungkin aku yang kurang info or, memang ini tellat exspose. Ada sebuah sekolah yang guru-gurunya sempet digerebek Densus 88 (ngerti kan lo semua, ini tim apa) ketika ketahuan ngebenerin jawaban siswa-siswanya untuk ujian Bahasa Inggris, di Sumatera Utara. Secara logika, ini memang tindakan yang salah. But…mari kita telusuri lagi, kenapa para guru ini mau ambil resiko.

Kalo jawaban kalian karena mereka “dibayar” oleh para siswa, kalian salah besar. Nggak logis lagi, “ngebayar” 18 guru sekaligus. Lagian ini sekolah yang cukup terpencil yang notabene siswanya juga nggak kaya-kaya amat. Aku pikir, guru-guru ini pastilah punya niat yang tidak buruk, namun mungkin caranya salah.

Tahu nggak kalian apa tanggapan para murid dari guru-guru ini ? Tim Prambors berhasil mewawancarai salah satu murid SMA yang bersangkutan. Murid tersebut berpendapat, dia bangga pada gurunya, walaupun tidak menyangka para guru akan bertindak begitu (mengingat seharusnya para guru itu harusnya digugu lan ditiru…). Kenapa dia bangga ? Karena dia merasa soal ujian bahasa Inggris itu memang tidak sesuai dengan apa yang selama ini mereka pelajari (notabene soal ujiannya listening and reading, sedangkan mereka tidak pernah sekalipun dilatih untuk itu, karena memang mungkin prasarana tidak lengkap), dan para guru dengan sukarela mau membantu anak didik mereka, yang mereka rasa memang tidak akan mampu untuk itu. Terlepas dari seharusnya mengajarkan hal itu adalah kewajiban para guru dan pihak sekolah, namun tindakan ini aku pikir bisa menggambarkan betapa tidak meratanya tingkat dan standar pendidikan siswa di Indonesia, di berbagai daerah di Indonesia.

Salah satu blok seorang siswa SMU yang juga mengalami UAN, menggambarkan bahwa betapa UAN saat ini seolah-olah menjadi setan dan penjajah yang membelenggu mereka, hanya agar mereka bisa melanjutkan lagi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (http://kutexmerah.multiply.com/journal/item/43/Ujian_Nasional_Behind_The_Scene?replies_read=23). Ini gila….

Guys, apa sih tujuan kita sekolah ? Mungkin itu yang harus ditanyakan juga ke para pemimpin kita yang membuat peraturan. Dulu waktu aku kecil, aku diajarin kalo kita sekolah itu untuk menuntut ilmu. Sekali lagi… MENUNTUT ILMU. Kalau sekarang aku lebih menilai kita sekolah untuk mencari nilai, menyenangkan ortu, dll, dll, dll….. Banyak motifnya dan sudah melenceng semua dari motif dasar tadi. Jelas aja, para siswa juga merasa terbeban untuk belajar. Jelas aja para pemimpin kita juga membuat peraturan yang aneh-aneh tanpa melihat kemampuan para siswa.

Sebenarnya siapa sih yang salah ? Menurut aku, seperti biasa, dua-duanya salah. Para siswa di satu sisi sudah mulai terpengaruh untuk males-malesan sekolah, hidup glamour, senang-senang, kadang tidak memperhatikan pendidikan lagi. Tapi juga hal itu bukan murni kesalahan mereka. Kenapa mereka begitu, … karena memang pelajaran mereka segitu-segitu aja, gimana mau belajar menuntut ilmu lebih tinggi… sementara yang diajarkan juga itu-itu aja. Sekolahnya salah juga dong kalo gitu. Mereka senang-senang terus, tidak memperhatikan pelajaran, ortunya juga salah dong, kok nggak ngontrol anaknya, ooo karena ortunya sibuk cari duit buat bayar sekolah karena sekolah mahal. Kok sekolahnya mahal, ooo karena memang peraturan dan diknas gitu, berarti diknas yang salah dong. Nggak juga, diknas kan menjalankan peraturan dari pusat, berarti pemerintah pusat lagi yang salah, apa lagi ya ? Nggak selesai deh kalo gitu. Intinya semua pihak salah. Tapi menurut aku, siswa di sini lebih sebagai korban…

Apa nggak ada cara lain selain UAN untuk menentukan apakah para siswa layak melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi atau enggak. Beberapa ada yang berpendapat, apakah nggak lebih baik ujian tetap ada untuk ukuran aja seberapa tingkat keberhasilan pengajaran, sedangkan masalah penentuan sang siswa layak atau tidak adalah ujian saringan masuk di tingkat yang lebih tinggi (notabene tiap institusi pendidikan) yang diperketat. Di sini, siswa bisa mengukur kemampuannya dan menyesuaikan ke institusi pendidikan yang sesuai dengan levelnya. Dalam hal ini, bukan ujian saringan masuk yang distandarkan, tapi mutu pendidikannya yang distandarkan. Aku pikir ini cara yang cukup bijak. But… entah lagi deh kalo ada yang ngebantah, lagian usul ini juga nggak mungkin atau kecil kemungkinan diterapkan mengingat kalau begitu, secara cepat tingkat pendidikan di Indo secara tidak langsung juga akan drop karena banyak siswa yang sebenarnya tidak layak. Artinya, banyak institusi pendidikan yang sekarang dianggap bagus yang tidak dapat murid. Lagi-lagi kembali ke pemerintah deh kayaknya. Selama tidak pemerataan mutu pendidikan, omong kosong deh…

Gimana menurut kalian ?

dikutip dari http://sebuahperjalananpanjang.wordpress.com

May 3, 2008 Posted by esuryono | informasi | | 10 Comments